Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/components/com_sh404sef/shInit.php on line 37
DINAMIKA ISLAM KEBUDAYAAN JAWA DALAM MENGAHADAPI MODERNITAS | Islam & Budaya Jawa
forex trading logo

Follow siji On

Facebook Twitter Google Bookmarks RSS Feed 
Branda
DINAMIKA ISLAM KEBUDAYAAN JAWA DALAM MENGAHADAPI MODERNITAS PDF Cetak Email
Penilaian User: / 1
TerburukTerbaik 
Kuliah - Islam & Budaya Jawa
Ditulis oleh Administrator   
Selasa, 03 Agustus 2010 20:32
MAKALAH
Disusun guna memenui tugas
mata kuliah ISLAM DAN KEBUDAYAAN JAWA 
Dosen pengampu : Ibu Naili Anafah, M. Ag 
Disusun oleh :  Setiyanto / 072211028
FAKULTAS SYARIAH 
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO 
SEMARANG 2010
1. PENDAHULUAN

Bangasa yang besar adalah bangsa yang  terus berpijak pada akr budaya, kemanapun bang sa tersebut berkembang. Apalah ariti nilai nilai adiluhung yang terkandung dalam budaya tersebut apabila kelak akan terhenti pada suatu generasi. Seberapa erat sang penerus menjaga akar kebudayaanpu akhirnya menjadi suatu factor tertentu kebesaran sebuah bangsa. Budaya jawa, sebagai satu dari sekian ragam budaya yang di miliki bangsa kita tengah berdiri menghadapi tantangan yang juga menjdi tantangan setiap budaya di dunia mordrnisasi.

 Kita patut bersukur bahwa sejak dahulu budaya jawa tumbuh sebagai budaya yang memiliki sansibilitas dan fleksibilitas yang tinggi terhadp perubahan-perubahan di sekitarnya. Nilai-nilai serta pemikiran-pemikiran yang terkandung di dalamnya pun tak pernah langka oleh waktu, menjadikannya sebagi budaya yang kokoh menghadapi gerusan jaman. Namun, tentu itu semua tak lantas kita terbebas dari kewajiban kita dalam menjaga kelonggaran dalam budaya jawa.  

2. PERMASALAHAN

  1. pengertian mordenisasi
  2. kebudayaan jawa dan globalisasi
  3. modernisasi dalam budaya jawa  
3. PEMBAHASAN

A. Perngertian Modernisasi

Modernisasi diartikan sebagai perubahan-perubahan masyarakat yang bergerak dari keadaan yang tradisional atau dari masyarakat pra modern menuju kepada suatu masyarakat yang modern. Pengertian modernisasi berdasar pendapat para ahli adalah sebagai berikut.

Widjojo Nitisastro, modernisasi adalah suatu transformasi total dari kehidupan bersama yang tradisional atau pramodern dalam arti teknologi serta Organisasi sosial, ke arah pola-pola ekonomis dan politis.

Soerjono Soekanto, modernisasi adalah suatu bentuk dari perubahan Sosial yang terarah yang didasarkan pada suatu perencanaan yang biasanya dinamakan social planning.

Dengan dasar pengertian di atas maka secara garis besar istilah modern mencakup pengertian sebagai berikut.

  1. Modern berarti berkemajuan yang rasional dalam segala bidang dan meningkatnya tarat penghidupan masyarakat secara menyeluruh dan merata.
  2. Modern berarti berkemanusiaan dan tinggi nilai peradabannya dalam Pergaulan Hidup dalam masyarakat.
  3. kebudayaan Jawa Dan Globalisasi

sebagai pandangan dan sikap hidup, sama juga dengan suku-suku bangsa yang ada di Indonesia, kebudayaanpun bersentuhan dengan kebudayaan-kebudayaan lainnya. Persentuhan itu menimbulkan akulturasi budaya. Karena akulturasi budaya haruslah di pandang sebagai keniscayaan sejarah peradaban bangasa-bangasa dibelahan bumi manapun yang terpenting bagaiman kita memahami budaya jawa yang mana pula bukan budaya jawa, kemudian menghayati dan mengejawantahkan nilai nilai filosofis yang di kandungnya sebagai pengaruh positif dalam kehidupan.

Kebudayaan jawa di tengah arus globalisasi, masyarakat jawa pengusung kebudayaan jawa tidak bias tidak terbawa arus glombang masifikasi budaya-budaya dari etnik-etnik yang ada d Indonesia dan belahan bumi manasaja. Masyarakat pengusung budaya jawa haruslah dapat secara kreatif memaknai nativistic momentum, sehingga penetrasi budaya-budaya dari luar etnik, tidak sampai mengarus nilai-nilai kejawaan itu sendiri. Jika tidak ingin kebudayaan jawa tergerus glombang navistic moventum dari kebudayaan yang ada di muka bumi ini, haruslah tetap bertahan pada nilai-nilai luhur yang di kandungnya sembari mengadaptasi budaya-budaya yang ada di seitarnya, baik dalam ranah konsep maupun prilaku sehari-hari. Sebab, sesungguhnya nilai nilai filosofis budaya jawa jika di tafasirkan secara kreatif merupakan nilai-nilai yang universal.

Penghayatan Agama

Seret gartoloco, gagasan yang ada di dalamnya bersumber dari penghayatan terhadap agama. Bentuk hubungan antara manusia dengan tuhan. Dalam pemahaman jawa untuk mencapai penyatuan dengan tuhan yang di kenal dengan manunggalin kawulo gusti harus di tempuh dengan beberapa tahapan. Langkah pertama melaksanakan sembah raga, kemudian sembah cipta, sembah jiwa dan yang terakhir sembah rasa. Menempuh jenjang ini bagi penganut kejawen acap kali di terima masyarakat umum(awam) dalam konteks mistik. Padahal ajaran tasawuf didalam islam dikatakan bahwa untuk mencapai kehadirat tuhan di perlukan beberapa langkah seperti syari’at, thorikot, hakikaot dan ma’rifat. Dengan demikian terdapat kesetaraan dan kesamaan dari dalam mencapai hadirat tuhan. Inilah bukti adanya pencampuran atau akulturasi budaya local dengan budaya asing. Pemikitan dan pemahaman kejawen sangat didasarkan pada ajaran budi luhur. Manusia jawa diingatkan jangan sombong, congkak, atau sebagainya. Tapi yang terpenting haruslah adhap ashor.

Konsep Kepemimpinan

Konsep kepemimpinan jawa pun sesungguhny sangat universal, terutama bila kita merujuk kepada budaya (tradisi) abad ke-17 tentang kebudayaan jawa kuno. Prinsip kepemimpinan jawa yang universal tergambar dari ungkapan yang di populerkan perguruan taman siswa; ing ngarso sung thulodo, di depan memberi contoh/teladan, ing madyo mangun karso yang di tengah memberi semangat dan tutwuri handayani yang di belakang memberi bimbingan.

Konsep dan falsafah ini, jika di terapkan akan mengantarkan anak bangsa kekehidupan sejahatera dan lahir batin. Karena itu langkah sayangnya bila kita mengabaikan kearifan tradisionala yang sangat kaya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Persoalannya bagai mana kita memperlakukan hal-hal yang tekstual menjadi kontekstual artinya kebudayaan yang tidak di pandang sebagai benda mati, melainkan sesuatu yang hidup dan akan terus berdialektika di dalam kehidupan.

Sangat Kaya

Menurut WS. Rendra dalam bukunya ‘ mempertimbangkan tradisi’ tradisi jawa sebenarnya sangat kaya. Karena itu, rendra menyayangkan masyarakat jawa yang tidak bias (mau) bergaul baik-baik dengan tradisi itu, sehingga jadi benalu tradisi. Karena itu, pekerjaan-pekerjaan kebudayaan di Indonesia akan menemui kesulitan apabila masyarakatnya tidaka bersikap kreatif terhadap tradisi. Padhal tradisi bukanlah benda mati tetapi sesuatu yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan kehidupan. Tradisi di ciptakan oleh manusia untuk kepentingan hidup dan bekerja, tapi tradisi yang popular dewasa ini adalah tradisi yang kaku.

Dari Mana Mau Kemana

Hidup bagi orang jawa adalah sebuah perjalanan, ungkapan yang sangat umum menggambarkan pandangan hidup orang jawa adalah sangkan paraning dumadi (dari mana mau kemana kita). Bagi orang jawa hidup di dunia ini harus memahami dari mana ‘asal’ akan kemana ‘tujuan’ perjalanan hidup dengan benat kasampuraning dumdi (kesemurnaan tujuan hakikot ). Mereka masyrakat jawa mengartikan kata ‘jawa’ bermakana ‘mengerti/paham’. Oleh karena itu di dalam keseharian sering terdengar masyarakat melontarkan ungkapans seperti: ‘durung jowo’ (belum paham), ‘wis jawa’ (sudah paham), atau wis ora jawa (berubah sombong karena menjadi kaya/ punya pangkat).

Bagaimana cara kita menanggulangi jman globalisasi tersebut salah satunya adalah intropeksi diri, oleh karena itu, perlunya di tingkatkan tameng diri agar tidak terbawa kearah kebobrokan, yaitu dengan kita menggunakan filsafat jawa. Sehingga jangan samapai orang jawa kehilangan kepribadiannya.

Adapun potensi falasafah jawa yang dapat digunakan sebagai tameng diri adalah sebagai berikut

  1. ajining diri saka lathi, ajining seliro soko busana artinya nilai diri seseorang terletak pada gerakan lidahnya, nilai badaniah seseorang terletak pada pakaiannya. Harga diri seseorang terletak pada ucapannya.
  2. aja dhumuko, aja gumun, aja kagetan, artinya jangan sok, jangan mudah terkagum kagum, jangan mudah terkeut.
  3. aja dhumeh, tepo seliro, ngerti kuwalat artinya jangan merasa hebat, tergantung rasa, tahu karma. Dimanapun kita berada, jangan merasa hebat, berbuat semaunya.
  4. sugih tanpa bandha, digdoyo tanpa aji, ngalurung tanpa bala, menang tanpa ngasarake artinya kaya tanpa harata, sakit tanpa azimat, menyerang tanpa bala tentara, menang tanpa merendahkan.
  1. Mordernisasi Dalam Budaya Jawa

Kebudayaan adalah hasil berfikir dan merasa manusia yang terwujut dalam kehidupan sehari-hari. Wujud budaya tidak lepas dari situasi tempat dan waktu di hasilkannya unsure waktu tersebut. Oleh karenanya dalam kebudayaan dikenal adanya perubahan, dengan terjadinya globalisasi di era modern ini ada unsure budaya local yang memiliki nilai universal dan di temukan pada bangasa-bangsa yang ada di belah dunia lainnya.

Dalam proses perubahan kebudayaan ada unsure-unsur kebudayaan yang mudah berubaha dan yang sekar berubah berkaitan dengan hal ini, linthon membagi kebudayaan menjadi inti kebudayaan kovertkultur dan perwujudan kebudayaan overtkultur bagi initi terdiri dari system budaya keyakinan keagamaan yang di anggap kramat, beberapa adapt yang telah mapan dan telah tersebar luas di masyarakat. Bagian init kebudayaan sulit berubah seperti agama adatiadat maupun system nilai budaya. Sementara itu wujud kebudayaan yang merupaan bagian luar atau fisik dari kebudayaan seperti alat-alat atau benda hasil seni budaya mudah untuk berubah.

Dengan menggunakan kerangka teori tersebut maka nilai budaya jawa isalam sulit berubah dimasa modern ini k arena berkaitan dengan keyakinan keagamaan dan adat istiadat. Dalam konteks terjadinya perubahan kearah mordenesasi yang merciri nasionalistis, matrealistis , legaiter maka nilai budaya jawa di harapkan pada tantangan bdaya global. Diantara nilai keuniversalan itu terletak pada nilai spiritual yang relegius magis. Nilai yang releius magis pada era modern ini juga di temukan pada budaya-budaya bangasa dinegri ini, tidak terbatas pada budaya jawa . maka nialai ini tamak akan hidup di masyarakat menganutnya karena adanya berbagi factor penyebab antara lain nilai spiritual jawa yang sinkretis, yang dalam realitsnya tidak mudah hilang dengan munculnya rasionalisasi diberbagi segi kehidupan karena di perlukan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup yang muncul di abat modern. Namun, dalam kenyataannya masyrakat, ada adapt istiadat jawa yang telah mengalami pergeseran sehingga di pandang tidak memiliki nilai magis lagi, tetapi sekedar bernilai seni. Misalnya, rangakaian upacara dalam perkawinan.

Kehidupan spiritual di era modern ini secara umum memang tampak mengalami peningkatan, termasuk di kalangan masyarakat jawa. Hal ini di sebabkan karena sebagian besar orang muali merasa pengaruh negative dari budaya modern yang hanya menonjolkan logika dan materi, tetapi kering dari nilai spiritual. Mereka cenderung mengutamakan hal yang bersifat materi dan rasional., tetapi melupakan nilai social dan batiniah. Sejalan dengan hal itu, maka banyak orang merindukan keetenangan batin dan larilah mereka ke ajaran agama dan kehidupan spiritual termasuk spiritualitas jawa islam, yang mulai banyak dilirik kembali oleh masyrakat modern. Kehidupan spiritual di butuhkan pula oleh manusia modern di saat terjadi persaingan ketat yang menuntut profosionalisme dan kualitas tinggi di berbagai bidang. Hal ini menyebabkan banya orang yang sters, dan mereka mencari ketenangan batin, di antaranya dengan kembai pada tradisi spiritual jawa islam yang sinkretis. Tidak mengherankan jika di era moderen ini upacara yang sejak dulu telah mengakar di masyarakat, yang bersifat religius magis banyak dilakukan lagi, seperi ruwatan untuk membuang sial.

Dilihat dari kebutuhan masyrakat modern terhadap nilai optima, maka budaya fisik. Menurut linton, budaya fisik terletak pada wilayah overt culture yang memang mudah berubah. Dalam realitasnya, beberapa nialai budaya islam seperti seni, ilmu pengetahuan, teknologi dan gaya hidup, telah mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan masyrakat modern.

Sesuai dengan tuntutan masyarakat modern, unsure budaya jawa islam dalam beberapa bidang memang memerlukan reinterprestasi agar sesuai dengan perubahan yang terjadi pada msyarakat. Misalanya ungkapan-ungkapan yang selama ini di tangkap secara tekstual tidak sesuai lagi, perlu di beri pemakanaan rasional. Seperti selogan alon-alon waton kelakon. Ungkapan ini sering dikaitkan dengan etos kerja dan sikap orang jawa yang  terkesan selalu lambat. Untuk masa sekarang, hal ini tentu tidak cocok lagi karena dalam kehidupan modern di tuntut adanya efisiensi waktu sehingga pekerjaan perlu dilakukan secara cepat dan tepat.

Selain itu perlu dilakukan rekontruksi agar kesan feodalisme yang melekat pada budaya jawa, seperti tata karma yang menerapkan hierarki bahasa, dapat di ubah dlam bentuk yang egaliter. Karena di era modern orang tidak lagi di batesi oleh sekat-sekat budaya sehingga menginginkan penggunaan bahasa yang berlaku nasional atau internasional. Di samping itu, prinsip egaliter dalam kehidupan social kemasyarakatan mulai di dengungkan di semua lapisan masyarakat. Oleh karena itu, penggunaan bahasa karma inggil yang mencerminkan setrata social masyrakat tidak perlu dipaksakan pemakaiannya. Yang penting, secara subtansial nilai sopan santun berbicara dan bertingkah laku yang terdapat dalam budaya jawa islam tetap di lestarikan, walaupun dalam format bahasa nasional atau internasional.

Masalah pembangunan dan mordernisasi

Suatu kelemahan dari mentalitet rakyat pedesaan dijawa, yang akan menjadi penghambat besar dalam hal pembangunan, adalah sikapnya yang pasif dalam hidup. Kesukaan orang jawa terhadap gerakan-gerakan kebatinan, penilaian tinggi yang dinyatakan terhadap konsep nerimo, ketabahan yang ulet dalam hal yang menderita, tetapi yang lemah dalam hal yang kaya, mereflesikan mentalitet tersebut di atas. Rupa-rupanya tekanan kekuasaan terhadap raja-raja dan bangsawan-bangsawan feudal dari zaman kejayaan kerajaan-kerajaan jawa dahulu, kemudian tekanan kekuasaan pada pemerintah-pemerintah kolonal yang telah mempunyai efek yang dalam terhadap rakyat petani di jawa.

Tekanan jumlah penduduk yang sudah mulai naik dengan laju yang cepat sejak satu abad di daerah pedesaan di jawa, teapi yang tersa secara nyata sesuadah zaman perang dunia kedua. Sesudah tentu merupakan juga salah satu maslah besar penghambat pembangunan. Dengan tanah yang terpecah-pecah kecil, dan kemudian masih juga harus di pecah-pecah lagi untuk dapat di bagikan kepada orang-orang desa dengan cara adol ayodan, adol sende, bagi hasil, dan sebaginya, maka sukar orang dapat menghasilkan surplus, yang dapat di tanam sebagi modal untuk pembangunan. Tiap-tiap produksi lebih seolah olah menghilang lagi dalam sekejap mata, karena harus di agi rata antara puluhan orang tetangga di desa yang ikut membantu pada panen (istimew bawon), atau dalam aktivitas-aktivitas gotong royong lainnya. Demikian agar sampai dapat terbentuk surplus utuk disisihkan dan di tanam sebai modal, orang desa jawa tidak perlu hanya melipat gandakan produksinya dua kali saja, tetapi tiga emat kali lebih. Hal ini hanya mungkin kalo cara-cara bercocok tanam yang lama di tinggalkan dan intensifikasi produksi di capai dengan pemakaian bibit unggul yang baru, dengan pemupukan secara.

Adapun pemakaian teknik teknik baru tidak hanya dalam pertanian, melainkan dalam seluruh kehidan masyarakat desa, yang seperti terurai diatas bersikap terlampau pasif terhadap hidup. Pokoknya rakyat harus di gerakan untuk pembangunan, tetapi usaha menggerakan rakyat memerlukan kepemimpinan aktif yang tidak hanya harus mempunyai pengetahuan dan pendidikan cukup banyak, tetapi juga harus memiliki daya aktivitas dan inisiatif untuk membuat inovasi-inovasi.

Struktur masyrakat di jawa yang asli, sudah terlanjur dirusak oleh struktur administrative yang di tumpangkan di atanya oleh pemerintah colonial, sejak lebih dari satu abat lamanya. Demikian sebagi akibat dari itu, masyrakat desa di jawa tidak mengenal kesatuan-kesatuan social dan organisasi adapt yang sudah mantap, yang dapat berbuat kreatif sendiri. Hal ini berbeda misalnya dengan organisasi-organisasi seperti banjar atau subak di bali, suatu daerah yang baru di kuasasi oleh pemerintah colonial sejak permulaan abad ke-20 ini, sehingga masih dapat mempertahankan bentuk bentuk organisasi asli yang sudah mantap itu. Organisasi administrative yang di tumpangkan dari atas biasanya di kepalai orang-orang yang berjiwa pegawai, yang sering tak suka memikul tanggung jawab sendiri, dan hanya bias menunggu perintah diatas.

Masyrakat desa yang membutuhkan pimpinan yang bersifat kreatif itu, biasanya juga tidak dapat mrnghasilkan tokoh-tokoh serupa itu sendiri karena banyak dari putra putrinya yang telah mendapat pendidikan sekolah tidak suka tinggal didesa, tanpa adanya perangsang yang menarik.

Sesudah uraian tersebut di atas, teranglah bahwa masih ada banyak penghambat dalam hal melaksanakan pembangunan masyarakat desa di jawa. Di antaranya masalah-masalah penghambat yang paling penting adalah:

  1. mentliter orang jawa yang terlalu menerima dan bersifat pasif  terhadap hidup
  2. tekanan penduduk yang telah menyebabkan rakyat pedesaan dijawa itu menjadi keliwat miskin
  3. tak adanya organisasi-organsasi asli yang telah mantap yang jika di mordernisasi dapat menjadi organisasi mayrakat yang aktif dan kreatif
  4. tak adanya kepemimpinan desa yang aktif kreatif dapat memimpin aktifitas produksi yang bias memberi hasil tiga empat kali lebih dari pada sekarang tiap-tiap tahun. Semua masalah tersebut memang kita dapat mengerti, tetapi amat sukur untuk diatasi dalam waktu yang singkat.
4.  KESIMPULAN

Kebudayaan jawa yang mendapat gelar adi luhung, sangat berpengaruh di seluruh plosok nusantara bahkan di kawasan regional asia tenggara, kebudayaan jawa menempati posisi yang sangat vital. Penyebab orang jawa di berbagi benua pasti membawa tradisi dan adapt istiadatnya. Oleh kaena itu, kebudayaan jawa secara aktif menyesuaikan diri dengan arus golonalisasi. Perkembangan IPTEK yang semakin ngerisi dan cenderung kejam dan tidak manusiawi dalam era globalisasi ini, kian mendesak budaya tradisi. Akibatnya kearifan social dan nialai-nilai luhur budaya di tinggalkan, dan jati diri bangsa menjadi mudar.

Manusia jawa memiliki budaya dan identitas secara jelas, dan identitas budaya itu sebagai cirri khas yang di mulai sejak jaman kerajaan. Akan tetapi, di jaman sekarang identitas tersebut telah banyak berubah seiring dengan adanya pengaruh budaya luhur, sehingga budaya jawa mengalami erosi. Maka muncullah istilah ”wong jawa ilang jawane” aritinya banyak orang jawa yang kehilangan identitas primernya seperti : filsafah ungguh unguh (saling menghormati), tradisi budaya, penggunaan bahas, dsb. Oleh karena itu kita harus eling lan waspada sesuai dengan falsafah jawa. Dunia berkembang kita ikut berkembang tapi tidak meninggalkan kepribadian diri (harga diri).

5.  PENUTUP

Alhamdulillah dengan selesainya pembuatan makalah ini semoga bermanfaat bagi kita dan sebagai tambahan kita dalam mencari ilmu. Apabila ada kesalahan ataupun kekurangan didalam makalah ini, kami minta maaf sebesar-besarnya. Untuk itu saran dan kritiknya kami perlukan dalam pembenahan makalah kami selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA


LAST_UPDATED2
 

Add comment


Security code
Refresh


Hot Threads


Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

New Post


Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Powered by Joomla!. Designed by: free joomla templates ntc dedicated hosting Valid XHTML and CSS.