Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/components/com_sh404sef/shInit.php on line 37
Interelasi Nilai Jawa dan Islam | Islam & Budaya Jawa
forex trading logo

Follow siji On

Facebook Twitter Google Bookmarks RSS Feed 
Branda
Interelasi Nilai Jawa dan Islam PDF Cetak Email
Penilaian User: / 0
TerburukTerbaik 
Kuliah - Islam & Budaya Jawa
Ditulis oleh Administrator   
Selasa, 03 Agustus 2010 22:16
MAKALAH
Disusun guna memenui tugas
mata kuliah Islam Dan Kebudayaan Jawa
Dosen pengampu : Ibu Naili Anafah, M.Ag
Disusun oleh :Fajrin Widiyaningsih / 072211020
FAKULTAS SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2009

INTERELASI NILAI JAWA DAN ISLAM

        I.            PENDAHULUAN

Sebagai agama dakwah, Islam tidak berhenti dan berada di luar kehidupan nyata manusia, tetapi masuk keseluruh segi kehidupannya. Keberadaan Islam dalam masyarakat muslim baik individu maupun sosial bersifat unik. Hal ini karena Islam tidak berusaha membentuk kebudayan yang sama. Dapat kita lihat bahwa masyarakat Islam di suatu daerah dengan daerah yang lainnya tidak selalu memiliki produk kebudayaan yang seragam (sama). Islam telah memberikan peluang kepada pemeluknya untuk memelihara dan menegembangkan kebudayaan–kebudayaan masing–masing, sepanjang tidak menyalahi dan melenceng jauh dari prinsip–prinsip Islam sendiri.

Masyarakat Jawa dipercaya memiliki kebudayan yang khas, dan masyarakat yang menjunjung tinggi sifat–sifat luhur dan kebudayaan ( termasuk berbagai macam seni, sastra dan kepercayaan ) yang dimilikinya.

Di Indonesia, kebudayaan Jawa merupakan salah satu kebudayaan lokal yang berpengaruh penting karena dimiliki sebagian besar etnik terbesar di Indonesia. Nilai–nilai Islam memiliki arti penting bagi kebudayaan Jawa karena mayoritas masyarakat Jawa beragama dan memeluk agama Islam. Dengan demikian hubungan nilai–nilai Islam dengan kebudayaan Jawa menjadi menarik karena keberadaan Islam dan kebudayaan Jawa yang cukup dominan pada bangsa Indonesia.

 

     II.            PERMASALAHAN

Dalam makalah ini akan di bahas beberapa materi mengenai :

a.       Arti Interelasi

b.      Interelasi antara nilai-nilai Islam dengan nilai Jawa

c.       Cakupan Interelasi Islam Jawa

 

   III.            PEMBAHASAN

A.     Arti Interelasi

Interelasi merupakan kata yang adopsi dari bahasa Inggris sehingga dari  kamus bahasa Inggris dapat di ketahui bahwa “interrelation : mutual or reciprocal relation or relathness”[1] yang berarti hubungan antar manusia. Jadi interelasi adalah hubungan atau keterkaitan. Maka interelasi antara nilai Jawa dan Islam merupakan keterkaitan antara dua nilai tersebut, sehingga yang nantinya itu menimbulkan akibat-akibat yang terjadi karena adanya hal tersebut yang saling berhubungan seperti adanya pengaruh-pengaruh dalam bahasa, sastra, arsitektur, dsb.

 

B.     Interelasi Antara Nilai-Nilai Islam Dengan Nilai Jawa

Perkembangan agama Islam di Indonesia yang berlangsung secara evolutif telah berhasil menanamkan akidah Islamiah dan syari’ah shahihah, memunculkan cipta, rasa, dan karsa oleh pemeluk-pemeluknya. Sebelum kedatangan Islam, masyarakat telah memeluk agama yang berkembang secara evolutif pula, baik dari penduduk asli (yang menganut animisme, dinamisme, veteisme, dan sebagainya) maupun pengaruh dari luar (Hindu-Budha). Yang menarik, unsur-unsur budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai kepatutan tersingkir dengan sendirinya, sedangkan yang baik yang mengandung unsur-unsur kepatutan dan kepantasan, hidup secara berdampingan.[2]

Pengaruh Islam terhadap kehidupan (pembinaan moral) bangsa Indonesia berkisar antara tiga kemungkinan. Yang pertama ialah ajaran Islam berpengaruh sangat kuat terhadap pola hidup masyarakat. Kedua, Islam dan budaya (moral) bangsa berimbang, sehingga merupakan perpaduan yang harmonis. Terakhir, ajaran (moral) Islam kurang berpengaruh, sehingga merupakan perpaduan yang ikut menyempurnakan moral bangsa. Ketiga kemungkinan perpaduan itu dapat terjadi di komunitas-komunitas muslim di berbagai tempat di Indonesia. Akulturasi ajaran-ajaran tersebut, akulturasi adalah  suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing.[3] yang kemudian berkembang menjadi kebudayaan yang dapat dikelompokkan menjadi tiga: (1) Kebudayaan yang didominasi oleh budaya Islam yaitu akulturasi antara dua budaya Islam dan non-Islam, tetapi yang paling menonjol ialah budaya Islam. Hal ini dapat dilihat dalam ritual-ritual Islam seperti; peralatan yang digunakan pada waktu salat (sajadah, tasbih, dan sebagainya), kelembagaan zakat, wakaf, dan pengurusan pelaksanaan haji; (2) Kebudayaan yang terdiri dari percampuran antara kedua budaya seperti; bangunan masjid, bentuk joglo, pakaian pria ataupun mahramah untuk wanita, lagu, kasidah, tahlil, dan sebagainya; (3) Percampuran kebudayaan yang membentuk pola atau corak kebudayaan tersendiri ialah; sistem pemerintahan (Pancasila), sistem permusyawaratan, dan berbagai pemikiran yang timbul dari berbagai macam pergerakan dan sebagainya.[4]

Sewaktu Islam masuk ke tanah Jawa, masyarakatnya telah memiliki kebudayaan tersendiri. Jadi sewaktu Islam masuk maka terjadi percampuran antara islam dan kebudayaan jawa itu yang oleh masyarakat di sebut nilai budaya jawa. Seiring berjalannya waktu maka kebudayaan itu mengalami perubahan dan perkembangan yang hasilnya dapat kita lihat pada masyarakat jawa yang sampai sekarang banyak yang masih bisa dirasakan seperti : masjid yang dipengaruhi model rumah jawa (joglo), dsb. 

Dalam proses penyebaran Islam di Jawa ini ada 2 pendekatan mengenai bagaimana cara yang ditempuh supaya nilai-nilai Islam dapat di serap menjadi bagian dari budaya jawa. Yang pertama : Islamisasi kultur jawa mulai pendekatan ini budaya jawa diupayakan agar tampak bercorak islam baik secara formal maupun secara substansial yang ditandai dengan penggunaan istilah-istilah islam, nama-nama islam, pengambilan, peran tokoh islam pada berbagai cerita lama, sampai kepada penerapan hukum-hukum, norma-norma islam dalam berbagai aspek kehidupan. Pendekatan kedua : Jawanisasi islam, yang diartikan sebagai upaya penginternalisasian nilai-nilai islam melalui cara penyusupan kedalam budaya jawa. Maksudnya disini adalah meskipun istilah-istilah dan nama-nama jawa tetapi dipakai, tetapi nilai yang dikandungannya adalah nilai-nilai islam sehingga islam menjadi men-jawa. Berbagai kenyataan menunjukkan bahwa produk-produk budaya orang jawa yang beragama silam cenderung mengarah kepada polarisasi islam kejawaan atau jawa yang keislaman sehingga timbul istilah jawa atau islam kejawen. Sebagai contoh pada nama-nama orang banyak dipakai nama seperti Abdul Rahman, Abdul Razak, meskipun orang jawa menyebutnya Durahman, durajak. Begitu juga penggunaan sebutan jawa In Pandum yang pada hakekatnya terjemah dari tawakal dan lain-lain.[5] 

Sebagai suatu cara pendekatan dalam proses penyebaran Islam di Jawa, kedua kecenderungan itu merupakan strategi yang sering diambil ketika dua kebudayaan saling bertemu. Apalagi pendekatan itu sesuai dengan watak orang jawa yang cenderung bersikap moderat serta mengutamakan keselarasan. Akan tetapi, persoalan yang sering muncul dan sering menjadi bahan perbincangan dikalangan para pengamat adalah makna yang terkandung dari percampuran kedua budaya tersebut. Mereka memiliki penilaian yang berbeda ketika dimensi keberagaman orang islam jawa termanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari, sebagian mereka menilai bahwa percampuran itu masih sebatas pada segi-segi lahiriyah sehingga islam seakan hanya sebagai kulitnya saja, sedangkan nilai-nilai esensialnya adalah jawa. Sementara itu, sebagian yang lain menilai sebaliknya dalam arti nilai islam telah menjadi semacam ruh dari penempatan budaya jawa kendatipun tidak secara konkret berlabel islam.

C.     Cakupan Interelasi Islam Jawa

Dari interelasi Islam dan jawa itu mempunyai pengaruh yang sangat besar, dalam berbagai aspek-aspek yang sampai sekarang masih bisa di rasakan, antara lain :

1.      Interelasi nilai jawa dan Islam dalam aspek kepercayaan dan Ritual

Dalam agama islam aspek fundamental terumuskan dalam aqidah atau keimanan sehingga terdapatlah rukun iman yang harus dipercayai oleh orang muslim. Kemudian dalam budaya jawa pra islam yang bersumberkan pada ajaran hindu terdapat kepercayaan adanya para dewata, terhadap kitab-kitab suci, orang-orang (para resi), roh-roh jahat, lingkaran penderitaan (samsara), hukum karma dan hidup bahagia abadi (moksa) dan juga upacara sunatan. Upacara ini dilakukan pada saat anak laki-laki dikhitan. Dalam pelaksanaan khitan itu masyarakat mempunyai ciri yang berbeda-beda. Ada yang melaksanakan khitan antara usia empat sampai delapan tahun, dan pada masyarakat lain dilaksanakan ketika anak berusia antara 12 sampai 14 tahun. Pelaksanaan khitan sebagai bentuk perwujudan secara nyata mengenai pelaksanaan hukum islam, sunatan atau khitanan ini merupakan pernyataan pengukuhan sebagai orang islam. Karena itu sering kali sunatan disebut selam, sehingga mengkhitankan dikatakan nyelameken, yang mengandung makna mengislamkan (ngislamake).[6] 

2.      Interelasi nilai jawa dan Islam dalam aspek sastra

Dengan adanya sastra yang berbentuk puisi, ceritra, atau prosa yang mengandung nilai moral, sehingga hasil sastra ini juga dipakai sebagai sarana penyebaran Islam.

3.      Interelasi nilai jawa dan Islam dalam aspek arsitektur

Di lihat dari bangunan-bangunan masjid, misalnya : pada bangunan menara masjid Kudus yang dibangun oleh Sunan Kudus. Bentuknya menyerupai meru pada bangunan Hindu. Lawang kembar pada bangunan utama masjid dan pintu gapura serta pagarnya berciri khas Hindu.  Bentuk bangunan khas Jawa tercermin pula dari bentuk atap yang bertingkat atau bertumpang (dua atau tiga) dengan pondasi persegi. Pondasi persegi ini, sisinya tepat berada pada arah mata angin. Bentuk bangunan dengan model atap tingkat tiga diterjemahkan sebagai lambang keislaman seseorang yang ditopang tiga aspek, yaitu iman, islam, dan ihsan.[7] 

4.      Interelasi nilai jawa dan Islam dalam aspek kesenian

Hasil dari aspek kesenian salah satunya terlihat dalam wayang. Wayang itu  mempunyai fungsi sebagai tontonan dan juga berfungsi sebagai tuntunan karena di dalam ceritra kisah pewayangan itu juga banyak mengandung nilai moral.

5.      Interelasi nilai jawa dan Islam dalam aspek bidang politik

Hal ini sangat terlihat pada pemberian gelar pada raja-raja jawa Islam di Jawa seperti Sultan, kalifatullah sayyidin panatagama, tetunggul khalifatul mu’minin, dsb.

6.      Interelasi nilai jawa dan Islam dalam aspek pendidikan

Adanya  pesantren yang merupakan lembaga pendidikan Islam di Jawa atau di luar Jawa yang muncul dari pengaruh-pengaruh Walisongo abad 15-16 di Jawa.

7.      Interelasi nilai jawa dan Islam dalam perspektif ekonomi

Slametan yang diadakan sebelum usaha di mulai merupakan ajaran perencanaan agar semua input dan unsur – unsur menejemen dipertimbangkan. Sedangkan slametan yang dilaksanakan setelah atau pada akhir melakukan usaha ekonomi mengajarkan tentang iman kepada Tuhan (terutama dengan ucapan syukur dan bukti rasa syukur kepada Tuhan atas segala karunia dan rizqi yang telah dilimpahkannya) dan juga merupakan ajaran perencanaan untuk perawatan dan penggunaan.

 

 

  IV.            KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat diambil simpulan bahwa :

·        Interelasi adalah hubungan atau keterkaitan

·        Ada 2 pendekatan mengenai bagaimana cara yang ditempuh supaya nilai-nilai Islam dapat di serap menjadi bagian dari budaya jawa.

1.      Islamisasi kultur jawa

Mulai pendekatan ini budaya jawa diupayakan agar tampak bercorak islam baik secara formal maupun secara substansial yang ditandai dengan penggunaan istilah-istilah islam, nama-nama islam, pengambilan, peran tokoh islam pada berbagai cerita lama, sampai kepada penerapan hukum-hukum, norma-norma islam dalam berbagai aspek kehidupan.

2.      Jawanisasi islam

Yang diartikan sebagai upaya penginternalisasian nilai-nilai islam melalui cara penyusupan kedalam budaya jawa. Maksudnya disini adalah meskipun istilah-istilah dan nama-nama jawa tetapi dipakai, tetapi nilai yang dikandungannya adalah nilai-nilai islam sehingga islam menjadi men-jawa.

·        Interelasi nilai jawa dan islam ini mencakup berapa aspek antara lain kepercayaan dan ritual, sastra, kesenian, arsitektur, politik, pendidikan dan perspektif ekonomi.

 

     V.            PENUTUP

Demikian tugas ini saya buat. Saya yakin bahwa tugas yang saya buat ini masih jauh dari yang namanya kata memadai, karenanya, arahan, kritikan, dan masukan dari Ibu dan kawan-kawan amat kami perlukan demi kebaikan makalah ini pada khususnya dan kami serta kawan-kawan lain pada umumnya. Semoga apa yang kami lakukan bermanfaat. Amiinn

DAFTAR PUSTAKA

Marhiyanto, Bambang, dkk.  Kamus 15 milyar. ( Buana Raya: Solo) 2006.

http://www.wikipedia.com/arti_akulturasi/

 

Tjadrasamitama, Uka , Kajian Naskah-Naskah Klasik dan Penerapanya bagi Kajian Sejarah Islam di Indonesia. (Puslitbang Lektur Keagamaan: Jakarta) 2006.

 

Amin, Darori. Islam dan Kebudayaan Jawa. (Gama Media: Yogyakarta) 2000.

 

http://www.indoskripsi.com/interelasi_nilai_jawa_dan_islam_dalam_aspek_kepercayaan_dan_ritual/

http ://www.mahasiswa_kreatif.blogspot.com/ interelasi_nilai_jawa_dan_islam_dalam_aspek_arsitektur/



[1] Bambang Marhiyanto, dkk. Kamus 15 milyar. Buana Raya. Solo, 2006. Hlm. 222

[2] QS. 13 (al-Ra’ad) : 17: ... الأرض   النّاس   فيمكث   فى   ما   ينفع   فأمّا   فيذهب  جفآء وأمّا الزّبد....  Artinya: “…Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi…” Terjadi akulturasi moral Islam dengan moral masyarakat di mana yang jelek-jelek hilang sedangkan yang baik tetap kekal.

[4] Uka Tjadrasamita, Kajian Naskah-Naskah Klasik dan Penerapanya bagi Kajian Sejarah Islam di Indonesia, Puslitbang Lektur Keagamaan, Jakarta, 2006, hlm. 60

[5] Darori Amin, Islam dan Kebudayaan Jawa, Gama Media, Yogyakarta, 2000, hlm. 119

[6] http://www.indoskripsi.com/interelasi_nilai_jawa_dan_islam_dalam_aspek_kepercayaan_dan_ritual/

[7] http ://www.mahasiswa_kreatif.blogspot.com/ interelasi_nilai_jawa_dan_islam_dalam_aspek_arsitektur/

Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4

INTERELASI NILAI JAWA DAN ISLAM

        I.            PENDAHULUAN

Sebagai agama dakwah, Islam tidak berhenti dan berada di luar kehidupan nyata manusia, tetapi masuk keseluruh segi kehidupannya. Keberadaan Islam dalam masyarakat muslim baik individu maupun sosial bersifat unik. Hal ini karena Islam tidak berusaha membentuk kebudayan yang sama. Dapat kita lihat bahwa masyarakat Islam di suatu daerah dengan daerah yang lainnya tidak selalu memiliki produk kebudayaan yang seragam (sama). Islam telah memberikan peluang kepada pemeluknya untuk memelihara dan menegembangkan kebudayaan–kebudayaan masing–masing, sepanjang tidak menyalahi dan melenceng jauh dari prinsip–prinsip Islam sendiri.

Masyarakat Jawa dipercaya memiliki kebudayan yang khas, dan masyarakat yang menjunjung tinggi sifat–sifat luhur dan kebudayaan ( termasuk berbagai macam seni, sastra dan kepercayaan ) yang dimilikinya.

Di Indonesia, kebudayaan Jawa merupakan salah satu kebudayaan lokal yang berpengaruh penting karena dimiliki sebagian besar etnik terbesar di Indonesia. Nilai–nilai Islam memiliki arti penting bagi kebudayaan Jawa karena mayoritas masyarakat Jawa beragama dan memeluk agama Islam. Dengan demikian hubungan nilai–nilai Islam dengan kebudayaan Jawa menjadi menarik karena keberadaan Islam dan kebudayaan Jawa yang cukup dominan pada bangsa Indonesia.

 

     II.            PERMASALAHAN

Dalam makalah ini akan di bahas beberapa materi mengenai :

a.       Arti Interelasi

b.      Interelasi antara nilai-nilai Islam dengan nilai Jawa

c.       Cakupan Interelasi Islam Jawa

 

   III.            PEMBAHASAN

A.     Arti Interelasi

Interelasi merupakan kata yang adopsi dari bahasa Inggris sehingga dari  kamus bahasa Inggris dapat di ketahui bahwa “interrelation : mutual or reciprocal relation or relathness”[1] yang berarti hubungan antar manusia. Jadi interelasi adalah hubungan atau keterkaitan. Maka interelasi antara nilai Jawa dan Islam merupakan keterkaitan antara dua nilai tersebut, sehingga yang nantinya itu menimbulkan akibat-akibat yang terjadi karena adanya hal tersebut yang saling berhubungan seperti adanya pengaruh-pengaruh dalam bahasa, sastra, arsitektur, dsb.

 

B.     Interelasi Antara Nilai-Nilai Islam Dengan Nilai Jawa

Perkembangan agama Islam di Indonesia yang berlangsung secara evolutif telah berhasil menanamkan akidah Islamiah dan syari’ah shahihah, memunculkan cipta, rasa, dan karsa oleh pemeluk-pemeluknya. Sebelum kedatangan Islam, masyarakat telah memeluk agama yang berkembang secara evolutif pula, baik dari penduduk asli (yang menganut animisme, dinamisme, veteisme, dan sebagainya) maupun pengaruh dari luar (Hindu-Budha). Yang menarik, unsur-unsur budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai kepatutan tersingkir dengan sendirinya, sedangkan yang baik yang mengandung unsur-unsur kepatutan dan kepantasan, hidup secara berdampingan.[2]

Pengaruh Islam terhadap kehidupan (pembinaan moral) bangsa Indonesia berkisar antara tiga kemungkinan. Yang pertama ialah ajaran Islam berpengaruh sangat kuat terhadap pola hidup masyarakat. Kedua, Islam dan budaya (moral) bangsa berimbang, sehingga merupakan perpaduan yang harmonis. Terakhir, ajaran (moral) Islam kurang berpengaruh, sehingga merupakan perpaduan yang ikut menyempurnakan moral bangsa. Ketiga kemungkinan perpaduan itu dapat terjadi di komunitas-komunitas muslim di berbagai tempat di Indonesia. Akulturasi ajaran-ajaran tersebut, akulturasi adalah  suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing.[3] yang kemudian berkembang menjadi kebudayaan yang dapat dikelompokkan menjadi tiga: (1) Kebudayaan yang didominasi oleh budaya Islam yaitu akulturasi antara dua budaya Islam dan non-Islam, tetapi yang paling menonjol ialah budaya Islam. Hal ini dapat dilihat dalam ritual-ritual Islam seperti; peralatan yang digunakan pada waktu salat (sajadah, tasbih, dan sebagainya), kelembagaan zakat, wakaf, dan pengurusan pelaksanaan haji; (2) Kebudayaan yang terdiri dari percampuran antara kedua budaya seperti; bangunan masjid, bentuk joglo, pakaian pria ataupun mahramah untuk wanita, lagu, kasidah, tahlil, dan sebagainya; (3) Percampuran kebudayaan yang membentuk pola atau corak kebudayaan tersendiri ialah; sistem pemerintahan (Pancasila), sistem permusyawaratan, dan berbagai pemikiran yang timbul dari berbagai macam pergerakan dan sebagainya.[4]

Sewaktu Islam masuk ke tanah Jawa, masyarakatnya telah memiliki kebudayaan tersendiri. Jadi sewaktu Islam masuk maka terjadi percampuran antara islam dan kebudayaan jawa itu yang oleh masyarakat di sebut nilai budaya jawa. Seiring berjalannya waktu maka kebudayaan itu mengalami perubahan dan perkembangan yang hasilnya dapat kita lihat pada masyarakat jawa yang sampai sekarang banyak yang masih bisa dirasakan seperti : masjid yang dipengaruhi model rumah jawa (joglo), dsb.

Dalam proses penyebaran Islam di Jawa ini ada 2 pendekatan mengenai bagaimana cara yang ditempuh supaya nilai-nilai Islam dapat di serap menjadi bagian dari budaya jawa. Yang pertama : Islamisasi kultur jawa mulai pendekatan ini budaya jawa diupayakan agar tampak bercorak islam baik secara formal maupun secara substansial yang ditandai dengan penggunaan istilah-istilah islam, nama-nama islam, pengambilan, peran tokoh islam pada berbagai cerita lama, sampai kepada penerapan hukum-hukum, norma-norma islam dalam berbagai aspek kehidupan. Pendekatan kedua : Jawanisasi islam, yang diartikan sebagai upaya penginternalisasian nilai-nilai islam melalui cara penyusupan kedalam budaya jawa. Maksudnya disini adalah meskipun istilah-istilah dan nama-nama jawa tetapi dipakai, tetapi nilai yang dikandungannya adalah nilai-nilai islam sehingga islam menjadi men-jawa. Berbagai kenyataan menunjukkan bahwa produk-produk budaya orang jawa yang beragama silam cenderung mengarah kepada polarisasi islam kejawaan atau jawa yang keislaman sehingga timbul istilah jawa atau islam kejawen. Sebagai contoh pada nama-nama orang banyak dipakai nama seperti Abdul Rahman, Abdul Razak, meskipun orang jawa menyebutnya Durahman, durajak. Begitu juga penggunaan sebutan jawa In Pandum yang pada hakekatnya terjemah dari tawakal dan lain-lain.[5]

Sebagai suatu cara pendekatan dalam proses penyebaran Islam di Jawa, kedua kecenderungan itu merupakan strategi yang sering diambil ketika dua kebudayaan saling bertemu. Apalagi pendekatan itu sesuai dengan watak orang jawa yang cenderung bersikap moderat serta mengutamakan keselarasan. Akan tetapi, persoalan yang sering muncul dan sering menjadi bahan perbincangan dikalangan para pengamat adalah makna yang terkandung dari percampuran kedua budaya tersebut. Mereka memiliki penilaian yang berbeda ketika dimensi keberagaman orang islam jawa termanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari, sebagian mereka menilai bahwa percampuran itu masih sebatas pada segi-segi lahiriyah sehingga islam seakan hanya sebagai kulitnya saja, sedangkan nilai-nilai esensialnya adalah jawa. Sementara itu, sebagian yang lain menilai sebaliknya dalam arti nilai islam telah menjadi semacam ruh dari penempatan budaya jawa kendatipun tidak secara konkret berlabel islam.

C.     Cakupan Interelasi Islam Jawa

Dari interelasi Islam dan jawa itu mempunyai pengaruh yang sangat besar, dalam berbagai aspek-aspek yang sampai sekarang masih bisa di rasakan, antara lain :

1.      Interelasi nilai jawa dan Islam dalam aspek kepercayaan dan Ritual

Dalam agama islam aspek fundamental terumuskan dalam aqidah atau keimanan sehingga terdapatlah rukun iman yang harus dipercayai oleh orang muslim. Kemudian dalam budaya jawa pra islam yang bersumberkan pada ajaran hindu terdapat kepercayaan adanya para dewata, terhadap kitab-kitab suci, orang-orang (para resi), roh-roh jahat, lingkaran penderitaan (samsara), hukum karma dan hidup bahagia abadi (moksa) dan juga upacara sunatan. Upacara ini dilakukan pada saat anak laki-laki dikhitan. Dalam pelaksanaan khitan itu masyarakat mempunyai ciri yang berbeda-beda. Ada yang melaksanakan khitan antara usia empat sampai delapan tahun, dan pada masyarakat lain dilaksanakan ketika anak berusia antara 12 sampai 14 tahun. Pelaksanaan khitan sebagai bentuk perwujudan secara nyata mengenai pelaksanaan hukum islam, sunatan atau khitanan ini merupakan pernyataan pengukuhan sebagai orang islam. Karena itu sering kali sunatan disebut selam, sehingga mengkhitankan dikatakan nyelameken, yang mengandung makna mengislamkan (ngislamake).[6]

2.      Interelasi nilai jawa dan Islam dalam aspek sastra

Dengan adanya sastra yang berbentuk puisi, ceritra, atau prosa yang mengandung nilai moral, sehingga hasil sastra ini juga dipakai sebagai sarana penyebaran Islam.

3.      Interelasi nilai jawa dan Islam dalam aspek arsitektur

Di lihat dari bangunan-bangunan masjid, misalnya : pada bangunan menara masjid Kudus yang dibangun oleh Sunan Kudus. Bentuknya menyerupai meru pada bangunan Hindu. Lawang kembar pada bangunan utama masjid dan pintu gapura serta pagarnya berciri khas Hindu.  Bentuk bangunan khas Jawa tercermin pula dari bentuk atap yang bertingkat atau bertumpang (dua atau tiga) dengan pondasi persegi. Pondasi persegi ini, sisinya tepat berada pada arah mata angin. Bentuk bangunan dengan model atap tingkat tiga diterjemahkan sebagai lambang keislaman seseorang yang ditopang tiga aspek, yaitu iman, islam, dan ihsan.[7]

4.      Interelasi nilai jawa dan Islam dalam aspek kesenian

Hasil dari aspek kesenian salah satunya terlihat dalam wayang. Wayang itu  mempunyai fungsi sebagai tontonan dan juga berfungsi sebagai tuntunan karena di dalam ceritra kisah pewayangan itu juga banyak mengandung nilai moral.

5.      Interelasi nilai jawa dan Islam dalam aspek bidang politik

Hal ini sangat terlihat pada pemberian gelar pada raja-raja jawa Islam di Jawa seperti Sultan, kalifatullah sayyidin panatagama, tetunggul khalifatul mu’minin, dsb.

6.      Interelasi nilai jawa dan Islam dalam aspek pendidikan

Adanya  pesantren yang merupakan lembaga pendidikan Islam di Jawa atau di luar Jawa yang muncul dari pengaruh-pengaruh Walisongo abad 15-16 di Jawa.

7.      Interelasi nilai jawa dan Islam dalam perspektif ekonomi

Slametan yang diadakan sebelum usaha di mulai merupakan ajaran perencanaan agar semua input dan unsur – unsur menejemen dipertimbangkan. Sedangkan slametan yang dilaksanakan setelah atau pada akhir melakukan usaha ekonomi mengajarkan tentang iman kepada Tuhan (terutama dengan ucapan syukur dan bukti rasa syukur kepada Tuhan atas segala karunia dan rizqi yang telah dilimpahkannya) dan juga merupakan ajaran perencanaan untuk perawatan dan penggunaan.

 

 

  IV.            KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat diambil simpulan bahwa :

·        Interelasi adalah hubungan atau keterkaitan

·        Ada 2 pendekatan mengenai bagaimana cara yang ditempuh supaya nilai-nilai Islam dapat di serap menjadi bagian dari budaya jawa.

1.      Islamisasi kultur jawa

Mulai pendekatan ini budaya jawa diupayakan agar tampak bercorak islam baik secara formal maupun secara substansial yang ditandai dengan penggunaan istilah-istilah islam, nama-nama islam, pengambilan, peran tokoh islam pada berbagai cerita lama, sampai kepada penerapan hukum-hukum, norma-norma islam dalam berbagai aspek kehidupan.

2.      Jawanisasi islam

Yang diartikan sebagai upaya penginternalisasian nilai-nilai islam melalui cara penyusupan kedalam budaya jawa. Maksudnya disini adalah meskipun istilah-istilah dan nama-nama jawa tetapi dipakai, tetapi nilai yang dikandungannya adalah nilai-nilai islam sehingga islam menjadi men-jawa.

·        Interelasi nilai jawa dan islam ini mencakup berapa aspek antara lain kepercayaan dan ritual, sastra, kesenian, arsitektur, politik, pendidikan dan perspektif ekonomi.

 

     V.            PENUTUP

Demikian tugas ini saya buat. Saya yakin bahwa tugas yang saya buat ini masih jauh dari yang namanya kata memadai, karenanya, arahan, kritikan, dan masukan dari Ibu dan kawan-kawan amat kami perlukan demi kebaikan makalah ini pada khususnya dan kami serta kawan-kawan lain pada umumnya. Semoga apa yang kami lakukan bermanfaat. Amiinn

DAFTAR PUSTAKA

Marhiyanto, Bambang, dkk.  Kamus 15 milyar. ( Buana Raya: Solo) 2006.

http://www.wikipedia.com/arti_akulturasi/

 

Tjadrasamitama, Uka , Kajian Naskah-Naskah Klasik dan Penerapanya bagi Kajian Sejarah Islam di Indonesia. (Puslitbang Lektur Keagamaan: Jakarta) 2006.

 

Amin, Darori. Islam dan Kebudayaan Jawa. (Gama Media: Yogyakarta) 2000.

 

http://www.indoskripsi.com/interelasi_nilai_jawa_dan_islam_dalam_aspek_kepercayaan_dan_ritual/

http ://www.mahasiswa_kreatif.blogspot.com/ interelasi_nilai_jawa_dan_islam_dalam_aspek_arsitektur/



[1] Bambang Marhiyanto, dkk. Kamus 15 milyar. Buana Raya. Solo, 2006. Hlm. 222

[2] QS. 13 (al-Ra’ad) : 17: ... الأرض النّاس فيمكث فى ما ينفع فأمّا فيذهب جفآء وأمّا الزّبد....  Artinya: “…Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi…” Terjadi akulturasi moral Islam dengan moral masyarakat di mana yang jelek-jelek hilang sedangkan yang baik tetap kekal.

[4] Uka Tjadrasamita, Kajian Naskah-Naskah Klasik dan Penerapanya bagi Kajian Sejarah Islam di Indonesia, Puslitbang Lektur Keagamaan, Jakarta, 2006, hlm. 60

[5] Darori Amin, Islam dan Kebudayaan Jawa, Gama Media, Yogyakarta, 2000, hlm. 119

[6] http://www.indoskripsi.com/interelasi_nilai_jawa_dan_islam_dalam_aspek_kepercayaan_dan_ritual/

[7] http ://www.mahasiswa_kreatif.blogspot.com/ interelasi_nilai_jawa_dan_islam_dalam_aspek_arsitektur/

LAST_UPDATED2
 

Comments  

 
0 #2 ulfiyah 2012-11-07 10:03
mba mkalah mu woh brguna bwt aq n mksih yah
Quote
 
 
0 #1 Administrator 2010-08-04 00:02
Terimakasih atas artikelnya.
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh


Hot Threads


Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

New Post


Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Powered by Joomla!. Designed by: free joomla templates ntc dedicated hosting Valid XHTML and CSS.