Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/components/com_sh404sef/shInit.php on line 37
Kebudayaan Jawa Pra Islam | Islam & Budaya Jawa
forex trading logo

Follow siji On

Facebook Twitter Google Bookmarks RSS Feed 
Branda
Kebudayaan Jawa Pra Islam PDF Cetak Email
Penilaian User: / 4
TerburukTerbaik 
Kuliah - Islam & Budaya Jawa
Ditulis oleh Administrator   
Selasa, 03 Agustus 2010 21:00
MAKALAH
Disusun guna memenui tugas
mata kuliah ISLAM DAN KEBUDAYAAN JAWA
Dosen pengampu : Ibu Naili Anafah, M. Ag
Disusun oleh : Ahmad Syukron Ma'mun / 072211016
FAKULTAS SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG 2010

A. PENDAHULUAN

Agama- agama di Indonesia memiliki peran sangat panjang dalam kehidupan bermasyarakat. Indonesia sering disebut negara kaum beragama, religius, dibuktikan dari sekian banyak agama yang diyakini masyarakat. Secara faktual, agama di Indonesia berjumlah sangat banyak, dari agama yang sering disebut agama samawi (Yahudi, Kristen, dan Islam) hingga agama-agama lain seperti Hindu, Buddha, Konghucu, Sin-to, dan lain sebagainya. Jauh sebelum datangnya agama-agama besar seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha, bangsa Indonesia menganut kepercayaan kepada Tuhan (animisme dan dinamisme). Kepercayaan inilah yang oleh Karen Armstrong (2002) disebut monoteisme primitif, percaya kepada Tuhan yang Esa.

Menurut mereka, setiap materi memiliki kesamaan sifat dengan manusia. Sebagai contoh, api memiliki sifat yang sama dengan manusia. Api memiliki kekuatan untuk membunuh atau melenyapkan apapun dengan panasnya sebagaimana manusia mampu membunuh binatang dengan kekuatan tangannya. Karena itulah, api mempunyai ruh. Bagi manusia primitif, menyembah api adalah proses menghormati keberadaan api itu sendiri. Penyembahan tersebut dilakukan agar tidak terjadi kebakaran seperti kebakaran hutan, sedangkan kebakaran diyakini sebagai bentuk kemurkaan api. Selanjutnya, berkembanglah paham banyak tuhan, banyak roh, banyak dewa, atau banyak kekuatan ghaib. Setiap kawasan bumi, hutan, sungai, laut, atau bahkan ruang angkasa, semuanya diyakini memiliki kekuatan tersendiri

Manusia mulai menganalisa setiap peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Sebelumnya, manusia primitif mulai mengeluarkan teori-teori tentang hakikat benda atau materi. Ia mulai menggabungkan antara keberadaan ruh manusia dengan keberadaan benda lain seperti air, udara, api, dan tanah.

Animisme berkembang lebih awal daripada dinamisme. Animisme menitik beratkan pada perkembangan ruh manusia. Mulai dari sini, manusia primitif menyimpulkan bahwa setiap materi yang memiliki sifat yang sama, maka memiliki substansi yang sama pula. Jika manusia mati dan hidup, tidur dan terjaga, kuat dan lemah, diam dan bergerak, kemudian manusia diyakini memiliki ruh, maka pepohonan, binatang, laut, api, matahari, bulan, dan materi-materi lainnya pun memiliki ruh seperti manusia.

Agama Hindu sebenarnya bukanlah agama dalam arti yang biasa. Agama Hindu adalah suatu bidang keagamaan dan kebudayaan, yang meliputi zaman sejak kira – kira 1500 SM.hingga zaman sekarang. Didalam perjalanannya sepanjang abad – abad itu agama Hindu berkembang sambil berubah dan terbagi – bagi sehingga memiliki ciri - ciri yang bermacam – macam, yang oleh penganutnya kadang – kadang diutamakan, tetapi kadang – kadang tidak diindahkan sama sekali. Berhubungan dengan itu Govinda Das mengatakan bahwa agama Hindu sesungguhnya adalah suatu proses antropologis, yang hanya karena nasib yang ironis saja diberi nama agama.[1]

 B. POKOK PEMBAHASAN

Yamg menjadi pokok pembahasan dalam makalah ini adalah:

  1. Jawa pada masa sebelum adanya agama-agama
  2. Zaman dinamisme animisme
  3. masa hindu dan budha

C. PEMBAHASAN

  1. Jawa pada masa sebelum adanya agama-agama

Jauh sebelum Islam datang, masyarakat Jawa telah memiliki pandangan hidup yang cukup mapan. Dalam bidang keagamaan masyarakat Jawa prahindu telah memiliki kesadaran keagamaan. Kesadaran keagamaan tersebut tampak pada keyakinan masyarakat Jawa terhadap kekuatan-kekuatan adikodrati yang mengatasi segala hal. Keyakinan ini mengantarkan masyarakat Jawa pada kesadaran kosmik dan nouminious atau kesadaran religiusitas.  Dua kesadaran tersebut merupakan kesadaran yang saling terkait, sebagaimana dua sisi mata yang saling mengisi yang kemudian mengendap menjadi kebudayaan Jawa dan menjadi “langit suci” segala aspek kehidupan masyarakat Jawa. Munculnya ritual slametan merupakan bukti konkret masyarakat Jawa dalam mengendapkan kesadaran ketuhanan yang terinstusionalisasikan. Kesadaran ini memiliki fungsi sosial yang luar biasa, yaitu dalam membangun ikatan sosial antar individu dalam masyarakat Jawa, serta mewujudkan keselarasan hidup. Etika patembayan (gotong royong) juga menjadi contoh lain yang juga bentuk kebudayan yang menghadirkan gambaran kosmologis Jawa dengan kesadaran nouminious tersebut. Sementara itu, Heire Gilden mengungkapkan bahwa kesadaran ketuhanan masyarakat Jawa sangat terkait dengan konsep sosial mereka, utamanya dalam membangun etika politik. Keraton sebagai penguasa tidak hanya sebagai kekuatan politik belaka, namun keraton juga merupakan sumber kekuatan kosmik yang dianugrahkan dzat adikodrati kepada salah satu manusia pilihannya. Kesadaran tersebut memunculkan konsep tentang raja dan dewa, yakni kesadaran tentang raja sebagai penguasa yang diberikan tugas untuk mengatur semua aspek kehidupan manusia yang harus dipatuhi dan diikuti oleh masyarakatnya.

Di daerah jawa telah ada agama-agama atau kepercayaan asli, seperti Sunda Wiwitan yang dipeluk oleh masyarakat Sunda di Kanekes, Lebak, Banten; Sunda Wiwitan aliran Madrais, juga dikenal sebagai agama Cigugur (dan ada beberapa penamaan lain) di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat; agama Buhun di Jawa Barat; Kejawen di Jawa Tengah dan Jawa Timur, agama-agama asli jawa tersebut didegradasi sebagai ajaran animisme, penyembah berhala / batu atau hanya sebagai aliran kepercayaan. 

           2. Zaman dinamisme animism

Seperti yang kita ketahui, masyarakat jawa umumnya mempercayai roh-roh halus (kepercayaan animisme) dan benda-benda yang bertuah atau yang berkekuatan ghoib (kepercayaan dinamisme).  

a. kepercayaan Animisme

Ciri masyarakat jawa antara lain berketuhanaan. Sejak masa praejarah, suku bangsa jawa telah memiliki kepercayaan animisme, yaitu suatu kepercayaan tentang adanya roh atau benda-benda, tumbuh-tumbuhan, hewan dan juga manusia sendiri.[2] Semua yang bergerak di anggap hidup dan berkekuatan ghaib atau memiliki roh yang berwatak buruk maupun baik.[3] Dengan kepercayaan tersebut, mereka beranggapan bahwa disamping semua roh yang ada, terdapat roh yang paling kuat dari manusia. Dan agar terhindar dari roh –roh tersebut maka mereka menyembahnya, dengan jalan mengadakan upacara di sertai dengan sesaji.  

b. kepercayaan Dinamisme

. Definisi dari dinamisme memiliki arti tentang kepercayaan terhadap benda-benda di sekitar manusia yang diyakini memiliki kekuatan ghaib.

Dalam Ensiklopedi umum, dijumpai defenisi dinamisme sebagai kepercayaan keagamaan primitif yang ada pada zaman sebelum kedatangan agama Hindu di Indonesia. Dinamisme disebut juga dengan nama preanimisme, yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda atau makhluk mempunyai daya dan kekuatan. Maksud dari arti tadi adalah kesaktian dan kekuatan yang berada dalam zat suatu benda dan diyakini mampu memberikan manfaat atau marabahaya. Kesaktian itu bisa berasal dari api, batu-batuan, air, pepohonan, binatang, atau bahkan manusia sendiri.

Keberadaan paham atau aliran animisme dan dinamisme ini tidak terlepas dari sejarah bangsa Indonesia. Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa Hindu dan Budha telah hadir lebih awal dalam peradaban nusantara. Masyarakat kita telah mengenal kedua agama budaya daripada agama Islam. Namun, sebelumnya ada periode khusus yang berbeda dengan zaman Hindu-Budha. Masa itu adalah masa pra-sejarah. Zaman ini disebut sebagai zaman yang belum mengenal tulisan. Pada saat itu, masyarakat sekitar hanya menggunakan bahasa isyarat sebagai alat komunikasi.

Di zaman itulah, masyarakat belum mengenal agama. Mereka belum mengerti tentang baik dan buruk. Mereka juga belum mengerti tentang aturan hidup karena tidak ada kitab suci atau undang-undang yang menuntun kehidupan mereka. Tidak ada yang istimewa pada zaman ini kecuali kepercayaan primitif mereka tentang animisme dan dinamisme. Disebutkan oleh para sejarawan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari kawasan tengah benua Asia. Ada yang mengatakan bahwa mereka bersebelahan dengan masyarakat Tiongkok. Ada juga yang menyebut nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari kawasan selatan Mongol. Yang pasti, para sejarawan tersebut sepakat bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari kawasan Asia.

             3. Masa hindu dan budha

Agama yang pertama masuk di Indonesia adalah hindu dan budha. Sejarah Perkembangan Agama Hindu Budha di Indonesia sangat menarik untuk di pelajari. banyak kebudayaan pada masa tersebut yang sampai sekarang masih ada dan masih sering kita lihat.

Indonesia juga mencapai puncak kejayaan masa-masa tersebut, mulai dari kerajaan sriwijaya, kerajaan majapahit, dan lain-lain. maka jika kita mempelajari kebudayaan hindu-budha mungkin tak cukup 1 tahun. kebudayaan dan sangat menarik, sangat berkesan, dan sangat berbudaya.

Sistem Kepercayaan

Dalam agama Budha terutama dalam system Mahayana menurut system wagniadatu menyebutkan dewa tertinggi adalah Adibudha dan tidak dapat digambarkan karena tidak berbentuk

Sidharta Gautama

Pendiri agama Budha adalah Sidharta Gautama yaitu seorang anak raja yang mendapat penerangan batin atau enliptenmen. Dia mengantakan bahwa dunia yang kita lihat adalah maya dan manusia adalah tidak berpengetahuan. Kehidupan manusia mengalami sansana atau hidup kembali sebagai manusia atau binatang. 

Ganesha

Ganesha adalah anak Siwa dengan Arwati. Dengan digambarkan berkepala gajah dan bertangan empat, pada dahinya juga terdapat mata ketiga. Dan pada setiap tangannya terdapat benda yang berbeda yaitu :

a) Tangan kanan bawah memegang patahan gadingnya

b) Tangan kanan atas memegang tasbih

c) Tangan kiri atas memegang Kapak

d) Tangan kiri bawah memegang mangkuk yang berisi manisan


Dewa Siwa

Dalam ajaran agama Hindu, Dewa Siwa (Çiwa / Shiva) adalah manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa sebagai pelebur, melebur segala sesuatu yang sudah usang dan tidak layak berada di dunia fana lagi sehingga segala ciptaan Tuhan tersebut harus dikembalikan kepada asalnya (Tuhan). 

Perkembangan agama Hindu di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh masuknya kebudayaan India ke Indonesia, yang terjadi kira – kira abad ke dua Tarikh Masehi, tetapi proses masuknya ini  masih diperdebatkan dibawa oleh siapa, karena waktu itu bahwa hubungan antara Indonesia dengan India dalam hal perdagangan,namun demikian dapat pula turut serta para pendeta dalam menyebarkan agama. Kebudayaan yang masuk ke Indonesia tidak hanya agama Hindu tetapi juga agama Budha.

Menurut Masroer Ch.Jb yang mengutip dari Rachmat Subagja dalam bukunya Agama Asli Indonesia, bahwa sejarah kedatangan agama Hindu di tanah Jawa mula – mula dipelopori oleh para pelaut India dan para Brahmana. Kaum Brahmana ini kemudian memperoleh kedudukan yang kuat dan menjabat sebagai penasihat raja serta melakukan upacara – uapacara keagamaan Abhiseka ( pertobatan ) dan Mahatmya ( menghidupkan adat ).[4] Sumber – sumber mengenai hal ini dapat dijumpai dalam prasati – prasasti dan candi – candi yang ada. Dan prasasti yang ada yaitu dari Canggal, Ratu Baka dan Dinaya.

D. Kesimpulan

Jauh sebelum Islam datang, masyarakat Jawa telah memiliki pandangan hidup yang cukup mapan. Dalam bidang keagamaan masyarakat Jawa pra-hindu telah memiliki kesadaran keagamaan. Kesadaran keagamaan tersebut tampak pada keyakinan masyarakat Jawa terhadap kekuatan-kekuatan adikodrati yang mengatasi segala hal. Keyakinan ini mengantarkan masyarakat Jawa pada kesadaran kosmik dan nouminious atau kesadaran religiusitas

Walaupun Hindu dan Budha belum menguasai bumi nusantara, banyak di antara mereka yang sudah melakukan proses ritual-ritual tertentu. Kepercayaan animisme dan dinamisme telah tumbuh dan berkembang pesat di sekitar lingkungan mereka. Dari kepercayaan inilah, mereka membangun sebuah masyarakat. Mereka mengangkat seorang kepala adat sebagai pemimpin. Baik pemimpin kemasyarakatan ataupun pemimpin dalam proses-proses ritual.

Perkembangan agama Hindu di Jawa tidak terlepas dari pengruh India yang masuk ke Indonesia dalam rangka hubungan dagang  yang sekaligus membawa kebudayaan mereka. Agama Hindu berkembang pesat karena pengaruh kerajaan – kerajaan yang ada       di jawa yang bercorak agama Hindu. Dengan otoritas kerajaan tersebut sehingga rakyanya mengikuti untuk menganut kepercayaan yang raja mereka anut, hal ini  sangat mendorong terhadap kemajuan dan perkembangan agama tersebut. Dalam bidang kebudayaan berbagai candi yang ditemukan di Jawa  menandakan bahwa semangat keagamaan telah tumbuh dan berkembang menjadi komponen yang penting dalam kehidupan masyarakat.

Daftar pustaka

Hadiwijono,Harun.Agama Hindu dan Budha.Jakarta:BPK Gunung Mulia.1993.Cet.ke-8

Darori amin, islam dan kebudayaan jawa(Yogyakarta:gama media,2000).

Kuncoro ningrat, sejarah kebudayaan Indonesia,(yokyakarta:jambatan,1954).

Jb.Masroer,Ch.The History of Java ( Sejarah Perjumpaan Agama – Agama di Jawa ).

hj. Ismawati, islsm dan kebudayaan jawa,(yokyakarta:gama media,2000).

http://masdarsono.blogspot.com/2009/01/negara-dan-diskriminasi-agama.html

http://www.cafebelajar.com/sejarah-perkembangan-agama-hindu-budha-di-indonesia.html



[1] Harun Hadiwijono,Agama Hindu dan Budha,(Jakarta:BPK Gunung Mulia,1993),hlm.11

 

[2] Darori amin, islam dan kebudayaan jawa(Yogyakarta:gama media,2000) hlm. 6.

[3] Kuncoro ningrat, sejarah kebudayaan Indonesia,(yokyakarta:jambatan,1954), hlm. 10. Lihat juga hj. Ismawati, islsm dan kebudayaan jawa,(yokyakarta:gama media,2000). Hlm.6.

[4] Masroer Ch.Jb.,The History of Java,( Yogyakarta:AR-RUZZ Yogyakarta,2004 ),hlm.21

 

Comments  

 
+1 #1 setianto 2010-08-04 00:12
sangat membantu sekali...
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh


Hot Threads


Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

New Post


Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/vol2_1/phpnet.us/s/siji/htdocs/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Powered by Joomla!. Designed by: free joomla templates ntc dedicated hosting Valid XHTML and CSS.